Selasa, 13 April 2010

Maafkan Aku Mama *Hiks..Hiks*


Menerawang mimpi indah seorang wanita dengan cita-cita menjadi wanita sempurna dalam hidupnya. Apakah jawaban dari cita-cita nan mulia??? Jawabannya hanya satu kata sarat makna yaitu IBU.

Ya…itulah cita-cita ibu kita dahulu dimasa belianya, bahkan sampai terjalinnya sebuah bahtera rumah tangga. Niat itu tak pernah luntur dari benaknya. Sampai dengan ikhtiar dan doanya berbuah permata. Maka , inilah kita sekarang anaknya. Yang begitu di damba dalam hidupnya.

Wahai ibu, apa yang kau rasakan????

Berawal dari…
Mual, tidak enak makan, tidak enak minum, tidur tidak nyaman, sampai terjagapun lemas terasa di badan. Ngidam, itu kata orang kebanyakan.
Bahagia yang kau rasa atas benih dalam kandungan tak menjadikan keluhan pada tiga bulan awal kehamilan.
Tapi ternyata aku salah….rasa mualnya tidak hanya tiga bulan, sampai lima bulan bahkan ada yang mual selama usia kandungan. Sembilan bulan??? Tak terbayangkan…

Setiap saat di paksakan menguatkan badan, walau susah menelan makanan dan minuman, namun tiada rasa jenuh itu menyerang. Kata ibu “ini demi pertumbuhan anak dalam kandungan”

Bidan, dokter umum, sampai spesialis kandungan pun menjadi tujuan pemeriksaan. Kata ibu “ ini demi kesehatan anak dalam kandungan”

Lantunan ayat Al-qur’an, musik klasik sampai membacakan cerita dua kali sehari sambil mengelus-elus perut yang semakin membesar. Kata ibu “ ini demi perkembangan kecerdasan otak anak dalam kandungan”

Tidur dengan posisi terlentang yang menyesakkan dada, posisi miringpun akhirnya kesemutan, jalan-jalan pagi dan sore hari sampai senam hamil dipraktekkan. Kata ibu “ ini demi kelancaran persalinan anak dalam kandungan.

Amalan wajib dan sunnah dilaksanakan. Kata ibu ” ini demi memohon agar kelak anak dalam kandungan menjadi shalih/ shalihah”

Tiba saatnya melahirkan, kembali aku bertanya ”Wahai ibu, apa yang kau rasakan???”

Sakit tak tertahankan, terutama pada daerah pinggang dan punggung bawah bagian belakang, dera nafas tak lagi normal, seluruh tenaga dikumpulkan untuk mengejan. Entah berapa hentakan yang dilakukan demi mendorong bayi mungil agar selamat menghirup udara fananya dunia.
Sekarang anakpun dalam buaian kasih sayang...
Menjadi permata dalam keluarga...
Penawar duka dan lara di jiwa…
Diajarkan ilmu yang berguna..
Mengenal Allah dan Rasulnya..
Dididik sampai kini menjadi dewasa…

Namun, apa balasanku buatmu wahai ibu???

Setiap kali ibu mendidikku, pernahkah terdengar keluhannya?? Beliau tak pernah mengeluh, yang terdengar ádalah keresahannya karena kebandelan ku, karena ketidak patuhan ku, karena setiap sangkalan ku sebagai bentuk pembelaan diri untuk tidak disalahkan.

Atas semua yang ku lakukan, ibu tak pernah punya secuil dendam pada kami anak-anaknya. Setiap salah ku di balasnya dengan senyum dan tangis dalam setiap doa dan munajadnya.

Serupa apakah ibu yang sempurna bagi ku??
Ibu adalah manusia biasa, tak sempurna sama seperti aku anaknya. Jika aku belum bisa menjadi anak yang sempurna, maka jangan pernah terpikir olehku menuntut kesempurnaan darimu ibu.

Ketahuilah, bahwa ibu berperan besar dalam hidup ku. Tapi aku tak pernah tahu betapa ’keras’ kerja yang telah dilakukan ibu buat kami anak-anaknya, sampai aku sendiri sebagai anak bisa merasakan apa yang dirasakannya.

Ada hal pedih yang harusnya aku rasakan, pernahkah aku menjadi anak yang berbakti? Ku bertanya pada diri, “mengapa tangan ibu tak sehalus tanganku?”, dan ibu tak pernah sedikitpun memaksa bahwa “tanganmu harus sama dengan tangan ibu”.

Lalu kurasakan pedih dalam benakku, kelopak mataku menghangat ingin menangis dan tak bisa berkata-kata. Lalu akupun berjanji dalam hati takkan menggerutu atas apa yang dilakukan ibu padaku. Akankah ku tepati janji itu??? Setiap janji adalah hutang yang tak selalu tertulis dan menjadi bukti nyata, untuk digunakan sebagai tuntutan bila janji tak terwujud.

Dan ini semua bagi yang masih merasakan kasih sayang seorang ibu.
Mungkin kita pernah merasa tersakiti dengan kemarahannya
Tapi, pantaskah kita marah padanya???
Pantaskah kita membalas kemarahannya???

Tidaklah dimiliki hak untuk marah, seorang anak bahkan berhutang nyawa pada ibu yang melahirkannya. Maka seorang anak takkan sanggup melunasi hutang-hutang itu. Hutang-hutang atas kerja kerasnya, hutang-hutang atas kegigihannya, hutang-hutang atas keikhlasannya, hutang-hutang atas keterjagaannya, hutang-hutang atas setiap untaian doa dalam munajadnya, dan semua itu tertuju untuk kita anak-anaknya.

Maka ku tuliskan dalam catatanku : aku tidak boleh marah pada ibu. Jika tidak mengikuti nasehat ibu, akan berada di mana aku hari ini? Aku takkan tumbuh dewasa dan mengerti hal-hal baik dalam hidupku. Jika ibu tak membimbingku, walaupun dengan sedikit kemarahannya, aku takkan pahami indahnya kehidupan, aku takkan pahami arti sebuah kepatuhan.

Bagaimana bagi yang telah ditinggal ibu???
Bagaimana kau memenuhi janjimu???
Apakah hanya penyesalan yang terpatri dalam hatimu???
Selama beliau masih ada, apa yang kau lakukan padanya???

Sungguh…semua telah diatur olehNya yang kuasa. Doa anak yang shalih / sahalihah akan menjadi amal yang tak terputus baginya dan menemaninya sebagai amal di hadapan Sang Pencipta.

Bagi yang tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
Jangan kau terlarut dalam dukamu, yakinlah kau ada karena seorang ibu yang mempertaruhkan nyawa melahirkanmu. Yakinlah bahwa beliau sangat menyayangimu. Berdo’alah, jika tidak dipertemukan di dunia, maka yakinlah Allah berkenan mengumpulkan kalian nanti dalam jannahNya, amin.


’syurga di telapak kaki ibu’,....wahai IBU...kaulah wanita penggalan syurga bagiku.
sumber : grup di fb catatn renungan dan kisah inspiratif

NEW PACKAGE OF HAPPINESS

Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Professional & Technical
Author:Ahmad Faris
INFO BUKU:
The New Package of Happinness, Ahmad Faris
Soft Cover; 12.5 x 19 cm, 236 halaman, Harga: Rp. 45.000,-

Keunggulan:
- Disampaikan dengan bahasa yang mudah dicerna dan menghibur
- Tema kebahagiaan sangat luas pasarnya dan buku ini mampu menampilkan rahasia kebahagiaan dengan cara yang baru
- Dikemas secara menarik (banyak ilustrasi menyegarkan di dalamnya)


Jika dalam hidup Anda pernah terluka, merasa kurang beruntung, luput dari banyak kemudahan, atau sering mengalami kegagalan...
Jika Anda pernah merasa dilecehkan, punya persoalan berat, atau pernah merasa sangat kehilangan...
Jika Anda pernah merasa dijauhi oleh orang-orang yang Anda cintai, dikhianati, atau merasa sepi di tengah segala kebercukupan hidup...
Jika Anda pernah merasa hidup ini hampa,membosankan, penuh beban, materi dan
keluarga seperti hampa arti...
...Maka bingkisan ini untuk Anda. Dibingkiskan tanpa syarat apa pun, dan tidak ada pekerjaan khusus yang harus Anda lakukan untuk memetik kebahagiaan.
SEMAKIN BANYAK ORANG YANG BERBAHAGIA, KAMI SEMAKIN BAHAGIA. Yuk gabung dan ajak orang yang kau sayangi bergabung. Kita menularkan bahagia....

NB. Pemesanan buku ini bisa melalui 0818 772 446
Dapatkan diskon khusus 20% pembelian minimal 3 biji

Akhlak yang paling mulia adalah menyapa mereka yang memutus silaturahim, memberi kepada yang kikir terhadapmu, dan memaafkan mereka yang menyalahimu.” (HR Ibnu Majah)

Senin, 05 April 2010

Bayangkanlah....

Mari saudara-saudaraku kita kembali mengingat kematian, yang sesungguhnya awal dari kehidupan yang sebenarnya, hidup di dunia fana ini tak lain hanyalah mencari bekal untuk kehidupan akherat kelak.

Sesosok tubuh berselimut kain putih terbujur kaku. Disekelilingnya terlihat sanak saudara saling berangkulan, dan sesekali terdengar sesegukkan diiringi tetesan air mata kepiluan, keheningan dan kesedihan yang teramat dalam. Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci dari beberapa orang yang hadir menambah kepiluan mereka yang ditinggalkan. Hari ini, satu lagi saudara kita menghadap Tuhan-nya, tidak peduli ia siap atau tidak.

Saudaraku, setiap yang hidup akan merasakan mati. Hal itu termaktub dengan tegas dan lugas dalam kitab-Nya. Maka, bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk menyambut maut yang kedatangannya tidak diketahui namun pasti itu. Saat seorang saudara kita mendapatkan gilirannya untuk menghadap Sang Khaliq, saat kita melihat tubuhnya membujur kaku, saat ia terbungkus kain putih bersih, saat tubuh tanpa nyawa itu diusung untuk dibawa ketempat peradilan utama atas setiap amalnya, dan saat kita bersama-sama menanamkan jasadnya ke dalam tanah merah serta menimbunkan tanah dan bebatuan diatas tubuhnya, sadarkah kita bahwa giliran kita akan tiba, bahwa waktu kita semakin dekat.

Saudaraku, pernahkah membayangkan betapa dahsyatnya maut menjemput, kita harus meregang nyawa saat Malaikat Pencabut Nyawa pesuruh Tuhan menarik nyawa manusia perlahan-lahan untuk memisahkan dari jasadnya.Dan saat lepas ruh dari jasad, mata kita yang terbuka lebar dan menatap keatas, mengisyaratkan ketidakrelaan kita meninggalkan keindahan dunia atau mungkin isyarat ketakutan yang teramat sangat akan ganjaran yang akan diterimanya di akhirat.

Saudaraku, bayangkan jika saudara yang baru saja kita saksikan prosesi pemakamannya itu adalah diri kita sendiri, bayangkan juga jika yang terbujur kaku terbungkus kain putih itu adalah diri kita yang saat ini tengah menikmati indahnya dunia, kita begitu rapuh, tidak berdaya dan takkan bisa berbuat apa-apa yang dapat menolong kita dari peradilan Allah, kita hanya diam dan membisu dan membiarkan seluruh tubuh kita bersaksi didepan Tuhan dan para malaikat-Nya atas waktu dan kesempatan yang diberikan, dan kita hanya bisa menunggu keputusan yang akan diberikan Allah.

Saudaraku, saat itu kita harus rela menerima keputusan dan menjalankan balasan atas segala perbuatan. Tentu tidak ada tawar-menawar, negosiasi, permohonan maaf, belas kasihan, bahkan air mata pun tidak berlaku dan tidak membuat Allah membatalkan keputusan-Nya. Karena kesempatan untuk semua itu sudah diberikan saat kita hidup didunia, hanya saja kita tidak pernah mengambil dan memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada untuk tunduk, takut, menangis berharap akan ampunan-Nya. Tidak saudaraku, semua itu sudah lewat.

Saudaraku, saat tubuh kita terusung diatas kepala para sanak dan kerabat yang menghantarkan kita ke tanah peradilan, tahukah kita bahwa saat itu kita berada dipaling atas dari semua yang hadir dan berjalan, tubuh dan wajah kita menghadap kelangit, itu semata untuk memberitahukan bahwa kita semakin dekat untuk menemui Tuahan Sang Pencipta. Tentu kita harus berterima kasih, karena masih ada orang-orang yang mau mengangkat tubuh kita dan mau bersusah-susah menghantarkan, menanam bahkan membiayai prosesi pemakaman kita. Bayangkan jika kita meninggalkan dunia ini dalam keadaan jelek, sehingga semua orang memalingkan mukanya dari muka penuh kotor dan nista ini. Saat itu, tentu tak satupun dari orang-orang yang masih hidup menangisi kepergian kita bahkan mereka bersyukur.

Saudaraku, kita tentu juga mesti bersyukur saat Tuhan mengizinkan tanah- tanah merah yang juga makhluk ciptaan Tuhan itu menerima jasad kita. Padahal jika tanah-tanah itu berkehendak -atas seizin NYA- ia akan menolak jasad kita karena kesombongan kita berjalan dimuka bumi. Jika ia mau, ia tentu berkata, "Wahai manusia sombong, ketahuilah bahwa tanah ini disediakan hanya untuk orang-orang yang tunduk". Ia juga bisa mengadukan keberatannya kepada Tuhannya untuk tidak mau menerima jasad manusia-manusia yang dengan sewenang-wenang dan serakah menikmati hasil bumi. Tanah-tanah itu juga tentu bisa berteriak, "Enyahlah kau wahai jasad penuh dosa, tanah ini begitu suci dan hanya disediakan untuk orang-orang yang beriman" Tapi, atas kehendak Tuhan jualah mereka tidak melakukan itu semua. Namun, tentu saat itu sudah terlambat bagi kita untuk menyadari kesalahan, dan kekhilafan.

Oleh karena itu saudaraku, saat sekarang Tuhan masih memberikan waktu dan kesempatan, saat sekarang kita tengah menunggu giliran untuk menghadap-Nya, ingatlah selalu bahwa setiap yang hidup pasti merasakan mati. Saat kita mengantar setiap saudara yang mati, jangan tergesa-gesa untuk kembali ke rumah, tataplah sejenak sekeliling kita, disana terhampar luas bakal tempat kita kelak, ya, tanah-tanah merah itu sedang menunggu jasad kita. Tapi, sudahkah semua bekal kita kantongi dalam tas bekal kita yang saat ini masih terlihat kosong itu?

sumber : catatan renungan n kisah ispiratif di Facebook

Titip Ibuku ya ALLAH....

Cerita ini kucopas dari Catatan RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF di facebook
semoga ini bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua..

" Ibu sayang... ga usah repot-repot Bu, aku dan adik-adikku udah dewasa "

pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa
Ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.

Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca ... orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak ..... tapi entahlah.... Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya," Bu, maafin aku kalau telahmenyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ? "

Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana . Terbata-bata Ibu berkata,

" Tiba-tiba Ibu merasa kalian tidak lagi membutuhkan Ibu. Kalian sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kalian, Ibu tidak bisa lagi jajanin kalian. Semua sudah bisa kalian lakukan sendiri "

Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan.

Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut
pandang masing-masing.

Diam-diam aku bermuhasabah. .. Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putera putrinya ? Ketika itu kutanya pada Ibu, Ibu menjawab,

" Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kalian berikan pada Ibu. Kalian tumbuh sehat dan
lucu ketika bayi adalah kebahagiaan . Kalian berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kalian berprestasi di pekerjaan adalah kebanggaan buat Ibu . Setelah dewasa, kalian berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kalian mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua."

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap,

" Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu. "

Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk "cuti" dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis. Menata keluarga,merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3
dinihari Ibu bangun dan membangunkan kami untuk tahajud. Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku dan adik-adik sering tertidur lagi...

Ah, maafin kami Ibu ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku ya Allah ?

" Nak... bangun nak, udah azan subuh .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. "

Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput,kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan,

" Terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu...".

Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, Ibu... Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat "aku sayang padamu...
",namun begitu, Rasulullah menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai karena Allah.

Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita... Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta dan mungkin telah tiada.

Percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia.

Wallaahua'lam

"Ya Allah, cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu..., dan jika saatnya nanti Ibu Kau panggil, panggillah dalam keadaan khusnul khatimah. Ampunilah segala dosa-dosanya dan sayangilah ia sebagaimana ia menyayangi aku selagi aku kecil
"

"Titip Ibuku ya Allah"

Sabtu, 03 April 2010

Sebuah Renungan yang Sangat Menggugah Hati....

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya duarakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek pula… Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah. Dilipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan:…..”Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisimalam-malamnya….dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Takjarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalamkhusyuknya.Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap …. AllahYang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzanberkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas …. menujusumber panggilan, …. kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh…. di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur’an sesempatnya, tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapihikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah initak sedikit pun membuat dada ini bergetar. Padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ….. ketika dibacakanayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya.Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin.Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka … untukmeredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, ……tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam …. dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya.Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena…. lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah denganpemahaman dan pengamalan tertinggi…..Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, itu pun dipilih matauang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatanbakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan.Sudahlah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum.Apa sih susahnya senyum?

Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tuturlembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan sematamiliki Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukanteruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya.

Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, …bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untukberlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dansebaik-baiknya.

Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, …. ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambahsumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aibdan kejelekan saudara sendiri.

Detik demi detik dada ini terus jengkel… setiap kali melihatkeberhasilan orang dan berharap orang lain celaka … atau mendapatkanbencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini?Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullahkelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orangberiman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yangberkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kitamenjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terusbermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tuakurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalahlagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apapun … selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah merekabesarkan ……dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata,juga darah.

Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yangdisebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang takberibu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliaumenyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat …… masih bisa mendapatitangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu.Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu… hinggakita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan. …..Bagaimanakah sikap kita ketika bersimpuh di pangkuan orang tua ….ketika iedul Fitri yang baru berlalu ….??? Apakah hari itu….hanya hari biasa yang dibiarkan berlalu tanpa makna………??? Apakah siangharinya….kita sudah mengantuk….dan akhirnya tertidur lelap…? Apakah kita merasa sulit tuk meneteskan air mata…??? atau bahkan kita menganggap cengeng……??? sampai sekeras itukah hati kita….???
ASTAGHFIRULLAHAL ADZHIM
Ya…Allah ….ya Rabb-ku……jangan Kau paling hati kami menjadi hati yg keras……, sehingga meneteskan air matapun susah……. merasabersih……merasa suci…. merasa tak bersalah……merasa tak butuh orang lain…… merasa modernis…..dan visionis………Padahal dibalik cermin masa depan yang kami banggakan….. terlukis bayang hampa tanpa makna…..dan kebahagiaan semu penuh ragu…..Astaghfirullaah ……Yaa Allah…ampunilah segenap khilaf kami.
Amin
sumber : grup di facebook catatan renungan dan kisah yang inspiratif



Jumat, 02 April 2010

4 Hal Penting.....

Nabi Muhammad SAW berkata:

1. 4 hal yang membuat badan sakit
- kebanyakan ngomong
- kebanyakan tidur
- kebanyakan makan
- kebanyakan bertemu orang

2. 4 hal yang merusak tubuh
- mengkhawatirkan
- kesedihan
- kelaparan
- tidur larut malam

3. 4 hal yang membuat murung dan mengambil kebahagian
- bohong
- kurang ajar atau tidak hormat
- berdebat tanpa pengetahuan atau informasi yg memadai
- amoral atau melakukan sesuatu tanpa rasa takut

4. 4 hal yang meningkatkan wajah berseri dan kebahagiaan
- kesalehan
- loyalitas
- kedermawaan
- menolong sesama tanpa diminta

5. 4 hal yang memberhentikan rejeki
- tidur dipagi hari dari sholat subuh hingga matahari bersinar
- tidak melakukan sholat atau tidak berdoa secara teratur
- malas
- penghianatan atau ketidak jujuran

6. 4 hal yang membawa rejeki
- berdoa dimalam hari
- tobat
- beramal
- berdzikir

sumber : SMS berantai yang tidak jelas pengarangnya....